Daftar Isi
Banyak yang berpendapat bahwa NET TV kini kehilangan identitasnya.
Ini terutama terlihat dari keputusan mereka untuk menayangkan acara-acara yang dulu tidak pernah mereka pertimbangkan, seperti FTV (Film Televisi) dan tayangan-tayangan yang lebih umum seperti sitkom SSTI (Suami-Suami Takut Istri).
Keputusan ini, menurut sebagian orang, menunjukkan bahwa NET TV mulai “menyerah” dan beralih ke strategi yang lebih komersial demi meningkatkan rating dan pendapatan iklan.
Perubahan ini membuat banyak penonton setia NET TV kecewa, terutama mereka yang awalnya tertarik dengan program-program kreatif dan berbeda yang ditawarkan NET.
Tayangan kartun dari Cartoon Network yang mendominasi slot pagi dan siang, serta program FTV yang lebih ringan, dinilai tidak lagi sesuai dengan identitas NET TV yang dulu dikenal sebagai televisi dengan konten berkualitas tinggi.
Kritik terhadap NET TV semakin menguat ketika program-program favorit seperti “The East,” “Breakout,” dan “WIB” (Waktu Indonesia Bercanda) mulai dihentikan atau mengalami penundaan tayang.
Namun, di sisi lain, perubahan ini bisa dilihat sebagai bentuk adaptasi bisnis.
Ketika rating dan pendapatan terus menurun, NET TV mungkin tidak punya pilihan selain mencari cara untuk tetap bertahan.
Penurunan kualitas program dianggap sebagai upaya untuk menarik lebih banyak penonton dari segmen yang lebih luas, yang memang lebih menyukai hiburan ringan dan sinetron.
Ini adalah tantangan bagi NET TV untuk menemukan keseimbangan antara menjaga identitas mereka dan tetap relevan di pasar yang kompetitif.

