Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) guna mencegah penyebaran nyamuk Aedes aegypti.
Salah satu langkah pencegahan yang dianjurkan adalah melakukan kegiatan 3M Plus, yaitu menguras, menutup, dan mengubur barang-barang bekas yang dapat menampung air.
Penggunaan kelambu, lotion anti nyamuk, dan memasang kawat anti nyamuk pada ventilasi rumah juga menjadi bagian dari upaya pencegahan tambahan.
Pemerintah Kabupaten Kebumen bekerja sama dengan Dinas Kesehatan setempat telah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka kasus DBD.
Salah satunya adalah program fogging atau pengasapan untuk membunuh nyamuk dewasa.
Namun, fogging hanya bersifat sementara dan tidak dapat membasmi telur nyamuk yang masih tertinggal.
Oleh karena itu, masyarakat diharapkan lebih aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan dan menghilangkan potensi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Menurut data dari Dinas Kesehatan Kebumen, angka kejadian DBD cenderung meningkat pada bulan Januari hingga Maret, yang merupakan puncak musim hujan.
Pada periode ini, genangan air menjadi lebih banyak sehingga mempercepat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
Di tingkat nasional, Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat bahwa DBD menjadi salah satu penyakit endemis yang menyebabkan angka kematian cukup tinggi setiap tahunnya.
Hal ini membuat edukasi dan kampanye pencegahan DBD menjadi prioritas di berbagai daerah, termasuk di Kebumen.
Masyarakat juga perlu mengenali gejala lanjutan DBD yang sering kali diabaikan.
Selain demam, gejala lain yang perlu diwaspadai adalah nyeri hebat pada otot dan sendi, lemah, dan lesu.
Pada beberapa kasus, penderita dapat mengalami perdarahan ringan, seperti mimisan atau gusi berdarah.
Jika kondisi ini terjadi, sebaiknya segera membawa pasien ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan yang tepat.





