Daftar Isi
Sorotmedia.com – Apakah kamu pernah bertanya-tanya, kenapa di dunia ini begitu banyak acuan kalender? Seperti yang kita tau, kalender yang sering kita lihat di tembok memang tidak sama dengan acuan kalender seperti kalender Hijriah atau pun kalender dari peradaban lainnya.
Di belahan dunia sana, sistem penanggalan berkembang dengan aturan berbeda karena dipengaruhi oleh pergerakan benda langit, sejarah peradaban, serta kebutuhan masyarakat pada zamannya.
Pada intinya, sistem kalender ini menujukan jika manusia tidak selalu menggunakan satu cara yang sama untuk menentukan hari, bulan, hingga tahun.
Di negara kita tercinta, kalender Indonesia menggunakan acuan Gregorian. Kalender jenis ini digunakan untuk kegiatan administratif dan kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, masyarakat di Indonesia juga masih menggunakan kalender Hijriah, kalender Jawa, serta sistem penanggalan tradisional lainnya.
Alasan Kenapa Banyak Sistem Kalender di Dunia
Perbedaan sistem kalender berawal dari cara masyarakat kuno memahami perubahan alam, terutama pergerakan matahari, bulan, dan bintang yang diamati secara langsung.
Bagi masyarakat agraris, penentuan waktu sangat penting untuk memperkirakan musim tanam dan panen. Kesalahan dalam menentukan masa tanam bisa menyebabkan kegagalan dalam panen.
Di sisi lain, masyarakat di belahan dunia lain butuh penanggalan untuk upacara keagamaan, kegiatan pemerintahan, serta perdagangan.
Karena setiap peradaban mengembangkan pengetahuan astronomi dan tradisinya sendiri-sendiri, maka muncul beragam metode untuk membagi waktu jadi satuan hari, minggu, bulan, hingga tahun.
Pada sebagian peradaban, acuan penanggalan menggunakan pergerakan matahari, sebagian lainnya berdasarkan peredaran bulan. Meski demikian, di beberapa peradaban lain menggunakan acuan kedua peredaran kedua benda langit tersebut.
Kalender Matahari, Bulan, dan Lunisolar
Di dunia yang fana ini, ada tiga acuan umum yang sering dijadikan patokan dalam penanggalan. Itu adalah matahari, bulan, dan lunisolar. Apa itu?
Kalender Matahari
Acuan penanggalan ini juga dikenal sebagai kalender solar yang menggunakan siklus tahunan matahari sebagai dasar untuk menyelarasan penanggalan dan juga pergantian musim.
Satu tahun tropis yang berkaitan dengan siklus musim di bumi berlangsung sekitar 365,2422 hari. Sehingga, kalender matahari perlu aturan penyesuaian tanggal agar tanggal tidak terus bergeser terhadap musim.
Kalender Gregorian, yang digunakan secara luas di dunia menerapkan tahun kabisat dengan menambahkan satu hari di bulan Februari dalam tahun tertentu untuk mendekati panjang tahun tropis.
Kalender Bulan
Kalender bulan disebut juga sebagai kalender lunar. Ini menggunakan fase bulan sebagai dasar dalam menentukan pergantian bulan.
Satu bulan sinodis, yakni waktu yang dibutuhkan bulan untuk kembali ke fase yang sama. Rata-rata berlangsung sekitar 29,53 hari.
Akibatnya, dua belas bulan lunar hanya mencakup sekitar 354 hari atau kurang lebih sebelas hari lebih pendek dari satu tahun di kalender matahari.
Kalender Hijriah adalah salah satu contoh yang menggunakan sistem bulan atau lunar ini. Ini juga jadi patokan dalam penentuan Ramadhan, Idulfitri, dan Iduladha.
Karena tidak selalu diselaraskan dengan tahun Matahari, tanggal dalam kalender Hijriah bergeser lebih awal sekitar sepuluh hingga sebelas hari setiap tahun jika dibandingkan dengan kalender Gregorian.
Kalender Lunisolar
Kalender ini adalah penggabungan perhitungan fase bulan dengan penyesuaian terhadap siklus tahunan matahari.
Dalam sistem ini, pergantian bulan mengikuti siklus bulan, sedangkan penambahan bulan pada tahun-tahun tertentu membantu menjaga kesesuaian kalender dengan musim.
Kalender Ibrani dan kalender tradisional China merupakan contoh sistem yang menggunakan prinsip lunisolar dengan aturan masing-masing.
Metode tersebut memungkinkan perayaan yang ditentukan berdasarkan bulan tetap memiliki hubungan dengan musim atau periode tertentu dalam tahun Matahari.
Sejarah Kalender Gregorian yang Digunakan Saat Ini
Kalender Gregorian berakar pada kalender Romawi dan reformasi kalender Julian yang diperkenalkan pada masa Julius Caesar pada 45 SM.
Kalender Julian menetapkan panjang tahun rata-rata 365,25 hari melalui aturan tahun kabisat setiap empat tahun, tetapi perhitungan tersebut sedikit lebih panjang daripada tahun tropis yang sebenarnya.
Selisih kecil itu terus terakumulasi selama berabad-abad sehingga tanggal kalender perlahan bergeser dari posisi yang diharapkan terhadap siklus musim.
Pada 1582, Paus Gregorius XIII memperkenalkan reformasi yang melahirkan kalender Gregorian untuk memperbaiki ketidaksesuaian tersebut.
Salah satu perubahan utamanya adalah aturan tahun kabisat yang lebih selektif, yakni tahun yang habis dibagi 100 tidak menjadi tahun kabisat kecuali juga habis dibagi 400.
Dengan aturan tersebut, tahun 2000 termasuk tahun kabisat, sedangkan tahun 1900 bukan tahun kabisat.
Penerapan kalender Gregorian berlangsung secara bertahap di berbagai negara karena setiap wilayah memiliki sejarah politik, keagamaan, dan administrasi yang berbeda.
Seiring berkembangnya hubungan internasional, perdagangan, transportasi, dan komunikasi, kalender ini semakin luas digunakan sebagai standar sipil untuk memudahkan koordinasi antarnegara.***



