Ashel menjelaskan bahwa upah yang diterimanya digunakan untuk biaya transportasi selama aktif di JKT48 pada bulan berikutnya.
Penjelasan ini memberikan gambaran lebih jelas mengenai realitas finansial yang dihadapi oleh para anggota baru JKT48 sebelum mereka benar-benar mulai tampil di depan publik.
Pengungkapan ini langsung menjadi topik hangat di kalangan warganet.
Beberapa orang mengungkapkan kekaguman atas keterbukaan Ashel, sementara yang lain membandingkan situasi tersebut dengan industri hiburan lainnya.
“Pertama kali di gaji, berarti ini kayanya semasa academy b, bener2 belum show theater dll, kaya habis dikenalin ke public sebagai gen 9 pasti kan ada jeda waktu sebelum show pertama,” tulis salah satu warganet, menyoroti proses yang dilalui oleh anggota baru sebelum mereka benar-benar memulai debut mereka di panggung.
Sementara itu, warganet lainnya membandingkan pengalaman Ashel dengan sistem di industri K-Pop.
“Di JKT trainee digaji walaupun cuma latihan belum perform. Kalo di KPop trainee itu bayar itupun belum tentu debut, kalo debut pun harus bayar hutang trainee dulu wkwk,” tulis seorang pengguna media sosial, mengungkapkan perbedaan mendasar dalam sistem penggajian antara JKT48 dan grup musik K-Pop.
Dalam era informasi yang semakin transparan, pengungkapan seperti ini memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana industri hiburan bekerja di balik layar.
Dengan adanya informasi dari mantan anggota JKT48 seperti Ashel, penggemar dan publik dapat lebih memahami tantangan yang dihadapi oleh para anggota grup musik sebelum mereka mencapai kesuksesan.***


