Dalam pernyataan resminya, Eswin menambahkan bahwa jika pegawai tersebut terbukti bersalah, ia bisa menghadapi sanksi berat, termasuk pemecatan secara tidak hormat.
Kasus ini sedang ditangani oleh pihak kepolisian, dan korban sudah melaporkan insiden tersebut untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
Meskipun hasil investigasi belum diumumkan, tindakan ini jelas memicu kemarahan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat.
Reaksi dari warganet pun sangat beragam. Banyak yang mengecam aksi penodongan senjata, bahkan jika senjatanya merupakan mainan atau airsoft gun.
Salah satu warganet menulis, “Mengacungkan senjata api, baik asli ataupun mainan yang membuat orang lain terancam sudah masuk tindak pidana. Banyak sekarang senjata mainan ataupun airsoft yang disalahgunakan untuk kepentingan kriminal seperti begal dan perampokan. Masyarakat pun tidak sempat memeriksa apakah senjata api asli atau mainan. Yang jelas wajib pidana karena sudah masuk ancaman nyawa.”
Komentar lainnya juga menyoroti ketidakpuasan terhadap penanganan kasus ini, dengan sindiran seperti, “Udah ketebak… Klarifikasi dan minta maaf doang…” dan “Oh senjata udah mulai banyak yang pegang ya.”
Insiden ini jelas menjadi pengingat penting tentang bagaimana tindakan individu dapat mempengaruhi reputasi institusi dan menimbulkan dampak luas pada masyarakat.
Pihak berwenang diharapkan dapat menangani kasus ini dengan transparansi dan keadilan, serta memastikan bahwa pelajaran berharga dapat diambil dari kejadian ini untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.***





