Sorotmedia.com – Dunia hiburan Jepang kembali diguncang oleh skandal yang melibatkan idol pendatang baru dari grup Icecream Scream, Mugino Tsumugi, yang dikeluarkan hanya sepekan setelah diperkenalkan ke publik.
Kasus ini menyedot perhatian warganet Jepang sejak pertengahan Juli 2025.
Mugino awalnya dianggap sebagai sosok segar yang akan memperkuat daya tarik grup tersebut.
Namun, popularitasnya langsung runtuh ketika masa lalunya terbongkar ke permukaan.
Mugino Tsumugi resmi diperkenalkan sebagai anggota baru grup Icecream Scream pada 22 Juli 2025.
Perkenalan tersebut sempat disambut positif oleh para penggemar yang antusias menyambut formasi baru grup asal Hokkaido itu.
Namun, dalam waktu kurang dari tujuh hari, publik menemukan fakta yang mengejutkan terkait masa lalu Mugino.
Penelusuran warganet di berbagai platform digital mengungkap bahwa sebelum menjadi idol, Mugino sempat tampil dalam beberapa film dewasa.
Dalam video yang beredar di sebuah situs film dewasa populer di Jepang, Mugino diketahui menggunakan nama panggung “Miyuki” dan tampil dalam setidaknya tiga judul film dewasa.
Keikutsertaannya dalam industri hiburan dewasa disebut-sebut sebagai bagian dari skena film dewasa amatir, yang umumnya diproduksi dalam skala kecil dan cenderung tanpa perantara agensi besar.
Informasi ini menyebar dengan cepat di forum-forum penggemar dan media sosial Jepang, memicu kemarahan dan kekecewaan dari penggemar Icecream Scream.
Banyak dari mereka merasa tertipu karena Mugino tidak mengungkapkan latar belakangnya sebelum debut.
Mereka mempertanyakan bagaimana agensi bisa melewatkan latar belakang tersebut dalam proses rekrutmen.
Melihat situasi yang kian memanas, agensi Icecream Scream mengambil langkah tegas.
Melalui pernyataan resmi, pihak agensi menyatakan bahwa mereka memutus kontrak Mugino Tsumugi secara sepihak.
Pihak manajemen mengklaim bahwa Mugino tidak pernah memberi tahu mereka mengenai keterlibatannya dalam industri film dewasa sebelum bergabung.
Pernyataan tersebut juga menyebut bahwa seluruh akun media sosial pribadi milik Mugino telah dinonaktifkan tak lama setelah pengumuman pemecatan.
Langkah tersebut menandakan bahwa Mugino tidak hanya didepak dari grup, tapi juga memilih untuk menarik diri sepenuhnya dari industri hiburan Jepang.
Kontroversi ini mengingatkan publik pada kasus serupa yang pernah terjadi sebelumnya.
Beberapa tahun lalu, Nagase Kako dari grup Iroha Sakura juga tersandung kasus serupa dan berujung pada pemecatannya.
Meski demikian, kasus Mugino Tsumugi menunjukkan bahwa stigma terhadap masa lalu seorang perempuan dalam industri hiburan masih menjadi isu sensitif di Jepang.
Namun, tanggapan publik kali ini tampak lebih terbagi.
Di satu sisi, sebagian besar penggemar mendukung keputusan agensi dan menganggap tindakan Mugino sebagai bentuk ketidakjujuran.
Namun, di sisi lain, tak sedikit pula yang mempertanyakan profesionalisme agensi dalam melakukan pemeriksaan latar belakang calon anggota.
Beberapa suara juga mulai bermunculan yang menyoroti betapa kerasnya standar moral yang diterapkan kepada para perempuan di industri hiburan, khususnya idol.
Mereka berpendapat bahwa masa lalu seharusnya tidak serta merta menghapus kesempatan seseorang untuk memulai kembali hidupnya.
Namun sayangnya, industri idol Jepang memang memiliki tuntutan moral yang sangat tinggi, di mana citra bersih dan polos menjadi nilai jual utama.
Dalam sistem tersebut, keterlibatan dengan konten dewasa, meski telah berlalu, dianggap dapat merusak citra grup secara keseluruhan.
Icecream Scream sendiri merupakan grup idol berbasis di Hokkaido yang telah berdiri sejak 2011.
Mereka memiliki basis penggemar loyal dan dikenal dengan gaya performa yang enerjik serta personel yang dipilih dengan sangat selektif.
Meski kehilangan anggota baru dalam waktu yang sangat singkat, pihak agensi menyatakan bahwa kegiatan grup akan terus berjalan seperti biasa.
Tidak ada informasi apakah mereka akan mencari pengganti Mugino dalam waktu dekat.
Hingga saat ini, Mugino belum memberikan pernyataan pribadi kepada publik terkait pengunduran dirinya dari dunia hiburan.
Keputusannya untuk menutup seluruh akses komunikasi publik menunjukkan bahwa ia memilih untuk menjauh dari sorotan dan mungkin mencari kehidupan baru di luar industri yang pernah menyambutnya dengan antusias, lalu menolaknya dengan cepat.
Kasus ini menjadi pengingat betapa ketatnya dunia idol di Jepang, di mana jejak masa lalu—terutama bagi perempuan—dapat menjadi batu sandungan yang berat untuk melangkah ke depan.
Sementara publik masih memperdebatkan benar atau salahnya tindakan Mugino, satu hal yang pasti: industri hiburan Jepang masih menyimpan tantangan besar dalam hal penerimaan, transparansi, dan kesempatan kedua.***





