Tuesday, 10 April 2018

Bagaimana Pendidikan Menjadi Penting Bagi Keluarga Sukanto Tanoto

Keluarga Sukanto Tanoto selalu memandang penting pendidikan. Mereka ingin memudahkan akses masyarakat untuk pendidikan yang berkualitas.

Sukanto Tanoto dikenal sebagai salah satu pengusaha tersukses di Indonesia. Ia mendirikan grup Royal Golden Eagle (RGE) dengan nama awal Raja Garuda Mas. Kini RGE berkembang menjadi korporasi sumber daya kelas internasional dengan aset senilai 18 miliar dolar Amerika Serikat dan karyawan 60 ribu orang.

Source: Inside RGE

Sebagai seorang pebisnis yang berhasil, Sukanto Tanoto bersikap unik. Ia tetap memandang penting pendidikan. Pria kelahiran Belawan ini malah menilainya sebagai sebuah hal penting yang wajib didapat oleh semua orang.

Padahal, Sukanto Tanoto memiliki jalan hidup seperti kebanyakan pengusaha besar di Indonesia. Ia tidak mengenyam pendidikan formal sejak usia muda.

Ketika tragedi G30S terjadi pada 1965, Sukanto Tanoto terkena imbasnya. Sekolahnya ditutup. Ia tidak bisa melanjutkan sekolah karena ayahnya masih berstatus sebagai warga negara asing.

Akibat kejadian tersebut, mimpi Sukanto Tanoto untuk menjadi seorang dokter kandas. Harapan untuk bersekolah akhirnya benar-benar kandas ketika ayahnya sakit tak lama usai ia putus sekolah. Sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara, Sukanto Tanoto mengambil tanggung jawab. Ia menggantikan sang ayah mengelola toko keluarganya demi menyambung hidup.

Akan tetapi, pengalaman pahit tersebut bukannya membuat Sukanto Tanoto tidak memandang pendidikan dengan penting. Sebaliknya ia justru ingin agar pihak lain tidak merasakan kesulitan seperti dirinya.

Kebetulan sang istri, Tinah Bingei Tanoto, merasakan pengalaman serupa. Hal itu semakin membuatnya memandang pendidikan sebagai aspek vital bagi seseorang.

Atas dasar itu, ketika memutuskan untuk mendirikan Tanoto Foundation secara resmi pada 2001, keluarga Sukanto Tanoto menjadikan pendidikan sebagai program utama.

“Pendidikan adalah hal yang dianggap penting, bukan hanya oleh saya sendiri tapi bagi keluarga saya secara keseluruhan. Meskipun ayah saya tidak punya kesempatan menekuni pendidikan secara formal, tapi ia adalah seorang mau terus belajar selamanya. Ia selalu menganjurkan pendidikan kepada siapa saja,” ujar putri Sukanto Tanoto, Belinda Tanoto.

Pendidikan memang menjadi bagian penting dalam kegiatan filantropi yang dijalankan keluarga Sukanto Tanoto. Aksi sosial mereka diawali dengan mendirikan sekolah mulai dari level Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, hingga Sekolah Menengah Pertama di Besitang, Sumatera Utara, pada 1981.

Kala itu, Sukanto Tanoto prihatin melihat kualitas pendidikan di sana sangat jauh tertinggal dibanding di Medan. Ia berpikir bagaimana nasib anak-anak karyawannya yang bekerja di Besitang? Hal itu akhirnya membulatkan tekad untuk mendirikan sekolah yang menjadi bibit Tanoto Foundation.

Saat ini akses pendidikan bermutu masih belum merata. Belum semua pihak di Indonesia mampu mengenyam pendidikan yang baik. Banyak yang tidak bisa melakukannya karena beragam alasan mulai dari daerah domisili hingga faktor kendala finansial.

“Kondisi yang dialami oleh orang tua saya bukan situasi aneh karena Asia Tenggara pada era 1960-an masih belum berkembang. Namun, sangat disayangkan, saat ini masih banyak ditemui anak-anak yang harus putus sekolah. Mimpi mereka kandas dan potensi yang sesungguhnya tidak muncul,” kata Belinda Tanoto.

Pernyataan Belinda Tanoto bukan tanpa dasar. Data dari UNICEF pada tahun 2016 menyebutkan sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan lanjutan. Sebanyak 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus putus sekolah.

Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik tidak berbeda jauh. Mereka menyatakan bahwa di tingkat provinsi dan kabupaten memang terdapat kelompok anak-anak tertentu yang paling rentan putus sekolah. Sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga miskin sehingga tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.

TERKENDALA BERAGAM FAKTOR

TERKENDALA BERAGAM FAKTOR

Source: Inside RGE

Kondisi yang memprihatinkan di Indonesia ini terjadi karena beragam sebab. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada bisa dijadikan acuan untuk menemukan jawabannya.

Mereka meneliti Hasil Bantuan Siswa Miskin Endline di Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Dari sana ditemukan bahwa sebanyak 47,3 persen responden tidak bersekolah lagi karena masalah biaya. Lalu, 31 persen putus sekolah karena ingin membantu orang tua dengan bekerja, serta 9,4 persen karena ingin melanjutkan pendidikan nonformal seperti pesantren atau mengambil kursus keterampilan lainnya.

Terlihat jelas bahwa kemiskinan sering menjadi penghalang utama dalam meraih pendidikan yang baik. Jika tidak diputus, kemiskinan bisa akan terus dialami oleh seseorang selama-lamanya.

Pendidikan bisa menjadi salah satu cara yang efektif dalam memutus kemiskinan. Sukanto Tanoto sudah membuktikannya sendiri. Meski tidak bersekolah secara formal, ia mau terus belajar. Pada akhirnya hal itu membuatnya mampu mengubah kehidupannya menjadi lebih baik.

Fakta ini semakin memperkuat keyakinan keluarga Sukanto Tanoto bahwa pendidikan penting bagi siapa saja. Apalagi pendidikan merupakan bekal yang tak akan habis sampai kapan pun. Ini semakin membuat Sukanto Tanoto kian memandang penting pendidikan.

Dengan pendidikan yang dinikmati, pola pikir seseorang bisa berkembang. Wawasannya juga bertambah luas. Selain itu, kemampuannya dalam menyelesaikan sebuah persoalan kian baik. Hal ini merupakan bekal berharga dalam kehidupan. Bahkan, nilainya bisa lebih tinggi dari uang berlimpah sekalipun.

“Ketika seorang pemuda diberi bekal kemampuan dasar dalam berpikir, membaca, berhitung, serta menulis, ia bisa memutus rantai kemiskinan,” tandas Belinda Tanoto.

Oleh sebab itu, banyak kegiatan Tanoto Foundation yang didasarkan terhadap pendidikan. Mereka sering memberi beasiswa mulai dari level sekolah menengah hingga pendidikan tingkat lanjut.

Bukan hanya itu, Tanoto Foundation menggelar pula pelatihan keterampilan mengajar bagi para guru. Kegiatan itu masih ditunjang dengan perbaikan beragam sarana pendidikan mulai dari gedung sekolah hingga perpustakaan.

Selama ini, kegiatan tersebut difokuskan di kawasan pedesaan yang terpencil di Provinsi Riau, Jambi, serta Sumatra Utara. Mereka melakukannya karena kualitas pendidikan di sana kurang baik serta akses ke sekolah bermutu yang sulit.

Dalam memberikan bantuan, Tanoto Foundation tidak sekadar memudahkan para penerima dukungannya. Lebih dari itu, masyarakat juga disemangati supaya punya kesadaran mengejar pendidikan dengan baik.

“Di yayasan, kami tidak hanya memberi penerima beasiswa dengan dukungan bantuan finansial maupun akses ke pendidikan bermutu. Namun, kami juga mengajari mereka supaya punya rasa cinta dan peduli terhadap sesama,” ucap Belinda Tanoto.

Berkat pendekatan itu, para penerima bantuan Tanoto Foundation akan bisa memberikan dukungan kepada pihak lain. Mereka mau menjalankannya karena punya empati tinggi. Akibatnya semakin banyak pihak yang terbantu.

Hal seperti inilah yang bisa dilakukan ketika pendidikan dinikmati oleh seseorang. Tidak aneh, keluarga Sukanto Tanoto selalu memandang hasrat menuntut ilmu sebagai hal krusial dalam hidup.

No comments:

Post a Comment